Saturday, May 05, 2007

Moon over my head

Gak berasa sekarang udah jam 7.50 malam. Kerjaanku baru selesai. Waktunya pulang. Akhirnya. Belakangan kangen juga pulang tenggo (which was almost impossible to do lately).

Begitu keluar gedung, aku jalan sedikit gontai ke trotoar depan kantor. Sepertinya naksi lagi malam ini.

Pas noleh ke sebelah kiri, subhanallah.......ada bulan yang menyembul diantara gedung dan langit malam. Jarang sekali aku bisa melihat bulan seterang ini. Sudah purnamakah ?! Atau mau akan purnama ?!

Ada rasa haru biru yg tiba-tiba merasuk hatiku. Aku lupa seberapa sering aku melihat bulan secantik malam ini. Aku hanya mengingat 2x aku mengagumi dan terharu biru dg salah satu kebesaran Allah SWT spt malam ini. Bulan pertama yg aku ingat betul adalah saat aku tidur beralaskan langit di Pulau Sebuku th 1995. Wkt itu aku ikut dalam team reasearch dg teman2 di Bio UI. Bulan kedua yg aku ingat adalah saat aku terduduk satu malam di Central Park, NYC, 7 th yg lalu.

Selalu ada rasa yang hilang tiap kali aku melihat bulan. Selalu ada rasa yg bertambah tiap kali aku melihatnya.
Semakin aku melihatnya, semakin kecil keberadaanku.
Semakin aku mengaguminya, semakin pula aku diingatkan akan berapa banyak waktu yg aku sia-siakan.
Malam ini sekali lagi aku diberi sentilan kecil. Seharusnya aku lebih baik dari kemarin dan kemarin.

Terima kasih ya Allah. Selalu ada caraMu untuk mengingatkanku, menegurku.
Bahwa aku hanya manusia yang tidak punya kuasa atas apapun. Tidak juga atas diriku.
Maafkan aku ya Allah. Jauhkan aku dari murkaMu. Amin ya robbal 'alamin.

Malam ini aku belajar dengan melihat bulanMu.

1 Comments:

Anonymous Syafrudin said...

Rasanya aku sudah lama sekali tidak mengamati langit malam. Mungkin karena sudah sejak 2001 saya tinggal di Bandung (kalau nggak salah kota kelahiran Luluk). Dulu saya sering termenung dan terharu malam - malam di pinggir jalan Margonda sepulang dari kampus UI, di satu sisi memandang langit yang menunjukkan kemahabesaran Allah, dan di sisi lain mengamati masih derasnya arus lalu lintas dari arah Jakarta meski malam sudah larut, fenomena "tua di jalan", menunjukkan kekerdilan manusia yang kurang bisa menjalankan peran sebagai khalifah bumi.

2:28 PM  

Post a Comment

<< Home